Agustus 16, 2007 oleh Nathanael
Permintaan yang mendesak dari Lama di Selatan sampai kepada Lama Agung di Utara. Ia meminta seorang rahib yang bijak dan suci untuk membimbing hidup rohani para calon rahib. Setiap orang heran, bahwa Lama Agung mengirimkan sampai lima orang. Orang yang bertanya-tanya dijawabnya demikian: ”Untung jika salah satu dari lima rahib itu akhirnya sampai kepada Lama di Selatan.”
Para rahib itu sudah menempuh perjalanan selama beberapa hari, ketika seorang kurir menghampiri mereka. Katanya: ”Imam di desa kami meninggal. Kami membutuhkan seorang pengganti.” Desa itu rupanya makmur dan menarik; lagi pula penghidupan imam amat terjamin. Salah seorang rahib merasa terdorong untuk menggembalakan umat. ”Aku bukan murid Buddha sejati,” katanya, ”kalau aku tidak tinggal di sini untuk melayani mereka.” Maka ia tidak melanjutkan perjalanannya.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | 3 Komentar »
Agustus 16, 2007 oleh Nathanael
Calon pertama masuk.
”Saudara tahu, bahwa ujian sederhana ini kami berikan kepada Saudara sebelum Saudara diterima bekerja disini?”
”Ya.”
”Nah, dua kali dua itu berapa?”
”Empat.”
Calon kedua masuk.
”Saudara siap untuk ujian?”
”Ya.”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
Agustus 16, 2007 oleh Nathanael
Mengatakan kebenaran, seperti yang diyakini, menuntut keberanian, apalagi kalau seseorang termasuk anggota sebuah lembaga atau instansi.
Menentang lembaga atau instansi menuntut keberanian yang lebih besar lagi. Justru hal seperti itulah yang dilakukan oleh Jesus.
Ketika Krushchev mengucapkan tuduhan berat untuk menggugat jaman Stalin, dilaporkan bahwa salah seorang yang ada di luar sidang berkata: ”Engkau berpihak pada siapa, Saudara Krushchev, waktu semua orang yang tak bersalah ini dibantai?”
Krushchev berhenti, memandang ruang sidang berkeliling, lalu berkata: ”Kuminta, saudara yang baru menyela tadi berdiri dan maju!”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
Agustus 16, 2007 oleh Nathanael
Ketika aku melihat papan nama pada kios itu, hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kubaca: ”KIOS KEBENARAN” Mereka menjual kebenaran disana!
Gadis penjaga kios bertanya dengan amat sopan: kebenaran macam apa yang ingin kubeli, sebagian kebenaran atau seluruh kebenaran? Tentu saja seluruh kebenaran! Aku tidak perlu menipu diri, mengadakan pembelaan diri, ataupun rasionalisasi lagi. Aku menginginkan kebenaranku: terang, terbuka, penuh, dan utuh. Ia memberi isyarat, agar aku menuju bagian lain dalam kios itu, yang menjual kebenaran yang utuh.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Sekali peristiwa, Tuhan memperingatkan rakyat mengenai datangnya gempa bumi, yang akan menghabiskan seluruh air yang ada di negeri ini.
Air yang kemudian datang mengganti, akan membuat setiap orang menjadi gila.
Hanya nabilah yang menanggapi Tuhan dengan serius. Ia mengusung air banyak-banyak ke guanya di gunung, sehingga cukup kiranya sampai hari kematiannya.
Ternyata benar, gempa bumi sungguh terjadi. Air menghilang dan air yang baru mengisi parit, danau, sungai, serta kolam. Beberapa bulan kemudian nabi turun ke lembah untuk melihat apa yang telah terjadi. Memang, semua orang telah menjadi gila. Mereka menyerang dan tidak mempedulikannya. Mereka semua yakin, justru dialah yang sudah menjadi gila.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Sebuah ruangan penuh sesak dengan wanita-wanita tua. Rupanya ada semacam agama atau sekte baru. Seseorang –hanya mengenakan serban dan cawat saja- maju ke depan. Ia berbicara dengan penuh semangat tentang kuasa budi atas materi, jiwa atas raga.
Semua orang mendengarkan dengan terpukai. Pembicara itu lalu kembali ke tempatnya persis di hadapanku. Orang yang duduk di sampingnya berpaling sambil bertanya cukup keras, ”Apakah Saudara sungguh percaya akan apa yang Saudara katakan tadi, yakni bahwa badan samasekali tidak merasakan apa-apa, bahwa semua itu hanya pikiran saja dan bahwa pikiran dapat dipengaruhi secara sadar oleh kehendak?”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Sudah jam sembilan pagi, namun Nasruddin masih tertidur lelap. Matahari telah tinggi, burung-burung berkicau di pepohonan dan sarapan Nasruddin telah menjadi dingin. Maka isterinya membangunkannya.
Ia bangun dengan amat marahnya:
”Mengapa justru sekarang engkau membangunkan aku?” teriaknya.
”Apakah kau tidak dapat menunggu sebentar lagi?”
”Matahari telah tinggi,” sahut isterinya, ”burung-burung berkicau di pepohonan dan sarapanmu sudah menjadi dingin.”
”Perempuan bodoh!” kata Nasrudin. ”Sarapan itu berarti apa dibandingkan dengan kontrak seratus ribu dinar emas yang baru saja mau kutandatangani!”
Maka ia membaringkan badannya lagi di tempat tidur. Sambil berguling-guling ia berusaha menangkap kembali mimpinya yang terputus dan kontraknya yang hilang.
Ternyata dalam mengadakan kontrak itu Nasruddin menipun dan partner bisnisnya ialah seorang penindas yang curang.
Kalau dalam meneruskan mimpinya Nasruddin tidak jadi menipu, maka ia akan menjadi seorang suci.
Kalau ia berusaha mati-matian untuk membebaskan rakyat dari kekejaman si penindas, maka ia akan menjadi seorang pembebas.
Kalau di dalam mimpinya, ia tiba-tiba menyadari bahwa ia hanya berpimpi, maka ia akan menjadi seorang yang sungguh-sungguh sadar dan seorang mistik.
Apa gunanya menjadi seorang suci dan seorang pembebas, selama orang masih tidur juga?
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah. Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa.
Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, ”Baiklah, baiklah.”
Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya. Guru itu jatuh namanya. Tidak ada lagi orang yang datang untuk meminta wejangannya.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Setelah bertahun-tahun berkeluarga, sepasang suami isteri nelayan yang miskin akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu menjadi kebanggaan dan hiburan ayah-ibunya. Pada suatu hari, ia sakit keras. Banyak uang dikeluarkan untuk membayar biaya pengobatannya. Namun sayang, akhirnya ia meninggal.
Ibunya merasa sungguh terpukul. Namun ayahnya sama sekali tidak meneteskan air mata.
Sesudah penguburan ibu itu menuduh suaminya betul-betul tidak punya perasaan. Nelayan itu menjawab, ”Dengarlah, mengapa aku tidak menangis: Tadi malam aku bermimpi, aku menjadi seorang raja. Aku bangga karena mempunyai delapan orang putera. Alangkah bahagianya aku! Lalu aku terbangun. Sekarang ini aku bingung; aku mau menangisi delapan anak itu atau yang seorang ini?”
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Shams-e Tabbrizi, seorang Sufi yang suci, mengisahkan ceritera tentang dirinya sendiri sebagai berikut:
Sejak masih kanak-kanak aku dianggap seorang yang tak berguna. Rupanya tak seorang pun memahami diriku. Ayahku sendiri pernah berkata, ”Kau tidak cukup gila untuk dimasukkan rumah sakit jiwa, dan tidak cukup saleh untuk dimasukkan biara. Aku tidak tahu harus berbuat apa denganmu.”
Aku menjawab, ”Sekali peristiwa, sebutir telur itik dierami oleh seekor ayam. Setelah telur menetas, anak itik itu berjalan-jalan bersama mengikuti si induk sampai mereka tiba pada sebuah kolam. Anak itik itu langsung terjun ke dalam air. Induk ayam tertinggal di pinggir kolam sambil berkotek-kotek kebingungan. Nah, bapakku tercinta, aku sudah terjun ke dalam samudera raya, dan merasa kerasan di sama. Bapak tentu tidak dapat mencela aku, kalau Bapak memilih tinggal di pantai saja.”
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Attar dari Neishapur bercerita:
Seseorang yang sedang jatuh cinta mengetuk pintu rumah kekasihnya.
”Siapa?” tanya sang kekasih dari dalam.
”Aku,” kata orang itu.
”Pergi sajalah! Rumah ini tidak akan muat untuk kau dan aku.”
Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke padang gurun. Di sana ia merenung selama berbulan-bulan, memikirkan kata-kata kekasihnya. Akhirnya, ia kembali dan mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.
”Siapa yang mengetuk itu?”
”Engkau!”
Segera pintu dibukakan.
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Murid: ”Aku datang untuk mengabdimu”
Guru: ”Seandainya engkau melepaskan si ’aku’, pengabdian akan terjadi dengan sendirinya.”
Engkau dapat merelakan semua harta bendamu bagi kaum miskin dan bahkan merelakan dirimu dibakar, namun belum tentu engkau mempunyai cinta sama sekali.
Simpanlah hartamu dan tinggalkan si ’aku’. Jangan membakar tubuhmu, bakarlah ’ego’mu! Cinta akan muncul dengan sendirinya.
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Ia mengira sungguh amat penting menjadi miskin dan hidup bermatiraga. Tidak pernah ia menyangka, bahwa yang paling penting ialah melepaskan ’ego’nya. ’Ego’ dapat menjadi-jadi karena kesucian maupun karena keduniawian, karena kemiskinan maupun karena kekayaan, karena bermatiraga maupun karena hidup mewah. Tidak ada sesuatu pun yang tidak digunakan oleh ’ego’ untuk melambungkan diri.
Murid: ”Aku datang kepadamu dengan tangan hampa”
Guru: ”Buanglah kehampaan itu sekarang juga!”
Murid: ”Bagaimana aku dapat membuangnya? Hanya kehampaan belaka.”
Guru: ”Kalau begitu, bawalah serta kemana saja engkau pergi.”
Engkau dapat membuat kehampaan menjadi milikmu. Dan membawa serta matiragamu bagaikan sebuah piala penghargaan. Jangan membuang milikmu. Buanglah ’ego’mu!!
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan berkata:
”Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat dari Khotbah di Bukit?”
”Silakan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,” kata Guru Zen itu.
Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti sejenak dan melihat Guru. Guru tersenyum dan berkata: ”Siapapun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah sudah mendapatkan penerangan budi.”
Orang Kristen itu senang. Ia meneruskan membaca. Sang Guru menyela dan berkata: ”Orang yang mengucapkan ajaran ini, sungguh dapat disebut Penyelamat Dunia.”
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »
April 5, 2007 oleh Nathanael
Legenda Kristen kuno:
Ketika Allah Putera dipaku pada kayu salib dan menyerahkan nyawaNya, dari salib Ia langsung turun ke neraka. Ia membebaskan semua pendosa yang pada waktu itu disiksa di sana.
Setan menangis dan meratap karena mengira, bahwa neraka tidak akan dihuni lagi oleh para pendosa.
Lalu Tuhan berkata kepadanya: ”jangan menangis. Aku akan mengirimkan kepadamu semua orang saleh yang menjadi puas diri karena menyadari kebaikan dan kebenaran mereka, lalu menghukum para pendosa. Dan neraka sekali lagi akan menjadi penuh untuk berbagi keturunan sampai Aku datang kembali.”
Ditulis dalam Burung Berkicau | Leave a Comment »